Film INVICTUS bercerita tentang tim rugby Afrika Selatan pada tahun 1995. Disitu dikisahkan tentang Nelson Mandela (NM) yang baru saja terpilih menjadi presiden. Diperankan oleh Morgan Freeman, Mandela berusaha menghapuskan politik aparteid, dan menyatukan baik ras kulit putih maupun kulit hitam di Afrka Selatan. Salah satu usahanya adalah dengan mendongkrak prestasi Springboks, julukan tim rugby negara tersebut yang sedang mengalami degradasi moral karena sebagian besar anggotanya, bahkan kaptenya, Pienaar, yang diperankan oleh Matt Damon, juga adalah seorang kulit putih. padahal loyalitas mereka terhadap negara tak lagi diragukan. Dukungan penuh yang diperoleh oleh tim ini, setelah beberapa kunjungan Madiba, membawa Springboks meraih juara. Meski berkisah tentang Afrika Selatan, film ini merupakan film Hollywood yang dibawakan dengan bahasa Inggris (dengan sedikit sekali campur kode dalam Bahasa Lokal). Morgan Freeman dan Matt Damon sukses merubah logat bahasa inggris mereka menjadi ke-Afrika Selatana-nan^^
Yang menarik dari film ini ialah ragam bentuk sapaan yang digunakan pada presiden Mandela. Ada kalanya ia dipanggil MADIBA, yang merupakan kata sapaan unik. MADIBA adalah nama panggilan klan afrika dari Mandela, yang menempel pada dirinya. Di kantor kepresidenan, hanya pegawai berkulit hitam saja yang memanggilnya dengan sebutan MANDIBA. Di luar itu, semua penduduk yang berkulit hitam, baik besar maupun kecil, memanggilnya MANDIBA. Padahal untuk orang yang sudah tua, seharusnya dipanggil dengan sebutan Mr+Nama. Namun hal itu tidak berlaku. Inilah variabel sosiolinguistik yang mendekatkan jarak sosial dan menurunkan formalitas.
Ada saat dimana istana kepresidenan mendapatkan tambahan pasukan pengaman presiden yang berkulit putih. Mereka semua memanggil Mandela tidak dengan sebutan MANDIBA, tetapi hanya dengan Mr.President saja. Pienaar, ketua tim rugby pun selalu memanggil Mandela dengan sebutan Mr.President, sebagaimana warga kulit putih lainya. Bahkan sampai film tersebut selesai, seluruh anggota tim yang berkulit putih hanya memanggilnya dengan sebutan Mr.President. Chester, satu-satunya anggota tim rugby yang berkulit hitam adalah pengecualian.
Lain lagi dengan John Thabasalala, komandan paspampres, yang terkadang memanggil Mandela dengan sebutan Comrade President. Comrade, maksudnya rekan/teman. Kata sapaan digunakan untuk menunjukan hubunganya yang sangat dekat dengan Mandela. Dalam film ini memang dikisahkan mereka berdua memang teman seperjuangan.
Beda lagi dengan pembantu madiba di rumah yang memanggilnya dengan sebutan 'DADA'. Dada adalah panggilan untuk anak yang berambut keriting, seperi Mandela di film tersebut. Bagi majikan yang dipanggil dengan pembantunya seperti itu bisa saja marah, karena hal itu kurang patut. Namun tidak dengan mandela. hal ini bisa dilihat sebagai usaha Mandela untuk membuat komunikasi terasa nyaman dan merangkul semua kalangan, dari mentri, sampai pembantu. Tapi tentu saja ketika di luar, pembantunya tidak memanggilnya
DADA, tetapi Mr.President atau MADIBA, dengan tujuan menghormati. Kita lihat di sini, selain hubungan antar penutur, hal penting lainya dalam pemilihan kata sapaan adalah kehadiran orang lain.
Begitulah, kata panggilan ini memang menjadi salah satu variabel sosiolinguistik untuk mengukur dimensi sosial yang berlaku dalam satu masyarakat. Tanpa pengetahuan tentang kata sapaan ini, tentu film INVICTUS tadi akan terasa kurang 'berkesan'. Mari kita tonton bersama! INVICTUS
Friday, July 29, 2011
Wednesday, April 27, 2011
Terjemahan Berita
Membaca media sekarang harus kritis, karena kalau tidak kita akan tersesat, tergiring ke arah satu pembentukan opini. Saat ini, media memang tidak murni lagi sebagai alat untuk menyampaikan fakta. Fakta yang disajikan media sudah penuh dengan proses rekonstruksi. Membaca atau menyimak media memang menarik perhatian, seru, penasaran. Tapi apa yang disampaikan fakta? kalau iya, berapa persen kadar kebenaranya? bagaimana cara penyajianya?
Tidak semua media menggunakan jasa reporternya untuk membuat berita. Banyak media yang mengambil berita dari media lain, lalu memuatnya di media mereka sendiri. Yang tidak teliti membaca tentulah menganggap berita ini ditulis reporter. Nah, kitalah yang harus kritis membacanya. Salah satu cara membaca kritis adalah dengan memperhatikan kutipan. Dengan itu kita tahu apakah berita itu betul-betul dibuat reporter, saduran, atau terjemahan. Dari situ kita tahu kualitas suatu media.
Sekarang, mari kita cermati berita ini, yang diambil dari huffington post (sumber asli)
http://www.huffingtonpost.com/2011/04/09/colin-carlson-uconn-stude_n_847028.html
Berikut adalah versi Indonesianya dari okezone.com
http://kampus.okezone.com/read/2011/04/11/373/444600/remaja-usia-14-tahun-raih-beasiswa-s2
Perhatikan disitu, bahwa dari jumlah paragraf, susunan kata, inti berita, tidak ada satupun yang berubah. Informasi yang ditambahkan adalah pada paragraf ke tiga, yaitu tentang kutipan.
Ada perbedaan antara menyadur dan menerjemahkan. Menerjemahkan adalah proses alih bahasa, sedangkan menyadur adalah penyusunan kembali satu cerita tanpa merusak garis besarnya. Nah, berita versi Indonesia ini jelas bukan buatan reporter asli. Selanjutnya, apakah saduran? atau terjemahan?
Kasus seperti ini bukan cuma sekali. Sayangnya kita sering tidak sadar dan menganggap semua berita adalah karena kehebatan para reporter dari media tersebut. Padahal beritanya adalah saduran atau bahkan hanya diterjemahkan! Bukan barang haram memang (selama menuliskan kutipan). Namun dari sini, kita bisa menilai jenis dan kualitas media tersebut
Makanya .... janganlah sekali-kali menganggap enteng kutipan...
Mari kita membaca kritis!
Tidak semua media menggunakan jasa reporternya untuk membuat berita. Banyak media yang mengambil berita dari media lain, lalu memuatnya di media mereka sendiri. Yang tidak teliti membaca tentulah menganggap berita ini ditulis reporter. Nah, kitalah yang harus kritis membacanya. Salah satu cara membaca kritis adalah dengan memperhatikan kutipan. Dengan itu kita tahu apakah berita itu betul-betul dibuat reporter, saduran, atau terjemahan. Dari situ kita tahu kualitas suatu media.
Sekarang, mari kita cermati berita ini, yang diambil dari huffington post (sumber asli)
http://www.huffingtonpost.com/2011/04/09/colin-carlson-uconn-stude_n_847028.html
Berikut adalah versi Indonesianya dari okezone.com
http://kampus.okezone.com/read/2011/04/11/373/444600/remaja-usia-14-tahun-raih-beasiswa-s2
Perhatikan disitu, bahwa dari jumlah paragraf, susunan kata, inti berita, tidak ada satupun yang berubah. Informasi yang ditambahkan adalah pada paragraf ke tiga, yaitu tentang kutipan.
Ada perbedaan antara menyadur dan menerjemahkan. Menerjemahkan adalah proses alih bahasa, sedangkan menyadur adalah penyusunan kembali satu cerita tanpa merusak garis besarnya. Nah, berita versi Indonesia ini jelas bukan buatan reporter asli. Selanjutnya, apakah saduran? atau terjemahan?
Kasus seperti ini bukan cuma sekali. Sayangnya kita sering tidak sadar dan menganggap semua berita adalah karena kehebatan para reporter dari media tersebut. Padahal beritanya adalah saduran atau bahkan hanya diterjemahkan! Bukan barang haram memang (selama menuliskan kutipan). Namun dari sini, kita bisa menilai jenis dan kualitas media tersebut
Makanya .... janganlah sekali-kali menganggap enteng kutipan...
Mari kita membaca kritis!
Monday, March 21, 2011
Motivasi dan Aksi Nyata
Ketika masih kuliah, beberapa rekan dari satu produk MLM terus-terusan mendekati saya untuk bergabung dengan MLM mereka. Salah satu kewajiban jika bergabung adalah mengikuti seminar motivasi dimana saya harus membayar sejumlah uang yang mereka sebut 'investasi'. Namun mereka tidak berhasil. Tidak putus asa, mereka kembali dengan upline nya untuk memotivasi saya masuk ke MLM tersebut. Gagal. Mereka bawa lagi upline dua level diatasnya. Gagal lagi. Upline level ke tiga bersedia membayari saya untuk ikut seminar motivasi, dan saya dapat mengembalikan uangnya nanti. Harapanya tentu supaya saya tertarik masuk MLM tersebut. Gagal total. Alasan saya tidak mau ikut seminarnya begini 'sebenarnya saya ada uang, tapi tidak ada anggaran untuk ke seminar tersebut'.
Intinya begini, saya tidak ada anggaran khusus untuk mendapatkan motivasi dari motivator di seminar. Untuk mendapatkan motivasi, saya masih belum merasa perlu menghadiri seminar khusus, mendengarkan chanel motivasi di radio, atau menonton para motivator di TV. Tukang becak yang mensyukuri kehidupanya dengan penghasilan minim, pemulung yang merangkap mahasiswa, orang cacat yang berprestasi dll... merekalah motivator saya. Mereka tidak menasehati, hanya memberikan aksi nyata.
Bukan artinya saya memandang rendah para motivator. Saya salut dengan mereka. Walaupun tidak menghadiri seminarnya atau tidak menyediakan waktu khusus menonton / mendengar program mereka, saya baca biografi para motivator-motivator Indonesia. Kebanyakan mulai dari bawah, mencapai satu posisi tinggi, kemudian rela melepaskan posisi tersebut untuk menjadi motivator. Cuma itu tadi, saya belum merasa perlu menyediakan waktu, dana dan tenaga khusus untuk program mereka.
Bagi yang merasa perlu saya tidak melarang. Namun ada beberapa teman yang terbuai mendengarkan suara dari para motivator tersebut sampai-sampai lupa dengan tujuan para motivator tersebut. Menurut saya, tujuan para motivator tersebut yang pertama adalah 'perubahan': dari yang lesu jadi bersemangat. Kemudian apa? setelah bersemangat orang tersebut jadi lebih produktif. Ini tentu tidak bisa dicapai dengan terus-terusan mendengarkan motivasi, sampai lupa dengan aksi nyata. Padahal aksi nyata inilah yang sebenarnya dibutuhkan.
Dalam Islam Allah menjanjikan bahwa nasib satu kaum akan berubah hanya jika mereka sendiri yang merubahnya. Ini saya rasa berlaku universal pada setiap agama. Tidak akan maju jika semua menghabiskan waktu berdoa tanpa berusaha. Usaha ini yang berbeda pada tiap orang. Ada yang produktif menulis, berbicara, riset, aksi fisik dll. Tentu saja yang positif yang dimaksudkan disini.
Mendengarkan motivasi seperti minum obat. Kalau kita lihat label obat akan ada narasi kira2 seperti ini. 'Dengarkanlah motivasi, bila perlu! Mendengarkan motivasi dapat menyebabkan...bla..bla...bla...'. Ambilah yang positif, hindari yang negatif. Setelah mendengarkan jangan lupa dengan tindak nyatany. Perlu dicatat juga, bahwa motivator bukan hanya orang yang mendapat predikat tersebut. Motivator ada di sekitar kita: pedagang, imam, ilmuwan, dosen, pegawai dll, bisa jadi ANDA juga salah satunya!!!
Intinya begini, saya tidak ada anggaran khusus untuk mendapatkan motivasi dari motivator di seminar. Untuk mendapatkan motivasi, saya masih belum merasa perlu menghadiri seminar khusus, mendengarkan chanel motivasi di radio, atau menonton para motivator di TV. Tukang becak yang mensyukuri kehidupanya dengan penghasilan minim, pemulung yang merangkap mahasiswa, orang cacat yang berprestasi dll... merekalah motivator saya. Mereka tidak menasehati, hanya memberikan aksi nyata.
Bukan artinya saya memandang rendah para motivator. Saya salut dengan mereka. Walaupun tidak menghadiri seminarnya atau tidak menyediakan waktu khusus menonton / mendengar program mereka, saya baca biografi para motivator-motivator Indonesia. Kebanyakan mulai dari bawah, mencapai satu posisi tinggi, kemudian rela melepaskan posisi tersebut untuk menjadi motivator. Cuma itu tadi, saya belum merasa perlu menyediakan waktu, dana dan tenaga khusus untuk program mereka.
Bagi yang merasa perlu saya tidak melarang. Namun ada beberapa teman yang terbuai mendengarkan suara dari para motivator tersebut sampai-sampai lupa dengan tujuan para motivator tersebut. Menurut saya, tujuan para motivator tersebut yang pertama adalah 'perubahan': dari yang lesu jadi bersemangat. Kemudian apa? setelah bersemangat orang tersebut jadi lebih produktif. Ini tentu tidak bisa dicapai dengan terus-terusan mendengarkan motivasi, sampai lupa dengan aksi nyata. Padahal aksi nyata inilah yang sebenarnya dibutuhkan.
Dalam Islam Allah menjanjikan bahwa nasib satu kaum akan berubah hanya jika mereka sendiri yang merubahnya. Ini saya rasa berlaku universal pada setiap agama. Tidak akan maju jika semua menghabiskan waktu berdoa tanpa berusaha. Usaha ini yang berbeda pada tiap orang. Ada yang produktif menulis, berbicara, riset, aksi fisik dll. Tentu saja yang positif yang dimaksudkan disini.
Mendengarkan motivasi seperti minum obat. Kalau kita lihat label obat akan ada narasi kira2 seperti ini. 'Dengarkanlah motivasi, bila perlu! Mendengarkan motivasi dapat menyebabkan...bla..bla...bla...'. Ambilah yang positif, hindari yang negatif. Setelah mendengarkan jangan lupa dengan tindak nyatany. Perlu dicatat juga, bahwa motivator bukan hanya orang yang mendapat predikat tersebut. Motivator ada di sekitar kita: pedagang, imam, ilmuwan, dosen, pegawai dll, bisa jadi ANDA juga salah satunya!!!
Wednesday, February 16, 2011
Berita, Tidak Penting?
Berita, tidak penting?
Seringkali kita mendengar ungkapan 'saya butuh berita, berita itu penting,...dll'. Tapi ternyata tidak semua berita itu penting. Paling tidak itu yang dikatakan oleh seorang wartawan J.Osdar di salah satu acara Mata Najwa. Saat itu Najwa membahas tentang gaya komunikasi para presiden Indonesia, dari Soekarno, sampai SBY.
J.Osdar, ketika dimintai pendapat oleh Najwa tentang marahnya presiden SBY, ketika ada bupati yang tidur saat dia berceramah, mengatakan hal seperti itu justru disukai wartawan, karena menarik. Berita itu kadang penting tapi pastinya menarik. Osdar juga mengatakan, kadang pemberitaan wartawan mengaburkan hal yang penting dan mengangkat hal yang menarik. Berita ini bisa bertahan lama.
Maka kadang2 kita menonton berita yang itu2 juga sampe berminggu-minggu.
Nah, intinya kita harus waspada. Berita itu bisa saja menarik, tapi tidak penting!
Waspadalah! Waspadalah!...hehe
Seringkali kita mendengar ungkapan 'saya butuh berita, berita itu penting,...dll'. Tapi ternyata tidak semua berita itu penting. Paling tidak itu yang dikatakan oleh seorang wartawan J.Osdar di salah satu acara Mata Najwa. Saat itu Najwa membahas tentang gaya komunikasi para presiden Indonesia, dari Soekarno, sampai SBY.
J.Osdar, ketika dimintai pendapat oleh Najwa tentang marahnya presiden SBY, ketika ada bupati yang tidur saat dia berceramah, mengatakan hal seperti itu justru disukai wartawan, karena menarik. Berita itu kadang penting tapi pastinya menarik. Osdar juga mengatakan, kadang pemberitaan wartawan mengaburkan hal yang penting dan mengangkat hal yang menarik. Berita ini bisa bertahan lama.
Maka kadang2 kita menonton berita yang itu2 juga sampe berminggu-minggu.
Nah, intinya kita harus waspada. Berita itu bisa saja menarik, tapi tidak penting!
Waspadalah! Waspadalah!...hehe
Saturday, February 12, 2011
Romanisasi Untuk Hangul (Aksara Korea)
Ada beberapa bahasa yang memiliki aksara sendiri, dalam arti bahasa tersebut tidak menggunakan aksarayang biasa kita gunakan sehari-hari seperti dalam dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Seingat saya, di Indonesia juga ada beberapa bahasa yang punya aksara sendiri. Misalnya bahasa Lampung. Saya sudah lupa2 ingat, tapi waktu SD, SMP masih bisa menulis pakai aksara Lampung. Lalu Bahasa Jawa dengan Honocorokonya. Hmm... kalo ini pasti banyak yang tahu.
OK lah, to return to an earlier point...
Romanisasi bahasa Korea dilakukan supaya orang yang belum mampu membaca dengan Hangul (aksara korea) bisa melafalkan bunyi bahasa Korea. Tapi jujur saja, bagi yang sudah mengenal Hangul, pasti lebih memilih menggunakan aksara Hangul. Ada beberapa alasan. Pertama, ada beberapa sistem romanisasi. Yang lumayan terkenal adalah Yale dan Mc.Cune Reischauer. Sekedar catatan sistem Yale (yang diciptakan di Yale University) lebih banyak digunakan oleh akademis. Kedua, biasanya penutur akan melafalkan romanisasi ini sesuai bahasa ibunya, bapaknya, engkongnya dll....hehe... Maksud saya, sesuai dengan pelafalan ortografi bahasa jatinya (native language). Orang Finlandia bakal mengucapkanya sesuai bahasa finlandia. Orang Arab, Indonesia dll sama juga....
Nah, bagi yang ingin tahu bisa lihat halam khusus tentang romanisasi hangul yang disediakan oleh National Academy of Korean Language ini. Bagi yang sudah bisa Hangul dan ingin membuat romanisasi dengan cepat, bisa ke website berikut ini.
Semoga bermanfaat....
OK lah, to return to an earlier point...
Romanisasi bahasa Korea dilakukan supaya orang yang belum mampu membaca dengan Hangul (aksara korea) bisa melafalkan bunyi bahasa Korea. Tapi jujur saja, bagi yang sudah mengenal Hangul, pasti lebih memilih menggunakan aksara Hangul. Ada beberapa alasan. Pertama, ada beberapa sistem romanisasi. Yang lumayan terkenal adalah Yale dan Mc.Cune Reischauer. Sekedar catatan sistem Yale (yang diciptakan di Yale University) lebih banyak digunakan oleh akademis. Kedua, biasanya penutur akan melafalkan romanisasi ini sesuai bahasa ibunya, bapaknya, engkongnya dll....hehe... Maksud saya, sesuai dengan pelafalan ortografi bahasa jatinya (native language). Orang Finlandia bakal mengucapkanya sesuai bahasa finlandia. Orang Arab, Indonesia dll sama juga....
Nah, bagi yang ingin tahu bisa lihat halam khusus tentang romanisasi hangul yang disediakan oleh National Academy of Korean Language ini. Bagi yang sudah bisa Hangul dan ingin membuat romanisasi dengan cepat, bisa ke website berikut ini.
Semoga bermanfaat....
Selamat Datang
Terimakasih sudah mampir ke blog ini. Maaf ya, belum ada isinya. Sementara, bisa ke blog ini. Blog tentang Korea ini juga saya yang mengelola, dan kebanyakan postingnya dalam bahasa Indonesia.
Terimakasih....
PRI
Terimakasih....
PRI
Subscribe to:
Posts (Atom)